Jenis jenis pupuk

Jenis Jenis Pupuk

Diposting pada

Bismillahirrahmanirrahim, Jenis jenis pupuk – Bagi Anda yang suka bercocok tanam, baik untuk keperluan bisnis peternakan maupun yang hanya sebatas mengisi waktu luang, maka pastinya mengenal istilah pupuk dan fungsinya. Pupuk sudah menjadi bahan utama yang harus ada karena fungsinya yang sangat mendasar bagi segala jenis tanaman. Dengan pupuk yang tepat, maka tanaman kita akan tumbuh dan berkembang dengan baik.

Hal ini dikarenakan kandungan pupuk yang kaya akan senyawa yang dibutuhkan oleh tanaman. Seperti N, Fe, Mg, P, K, H dan lain-lain. Sebenarnya tanaman tidaklah membutuhkan pupuk, dengan catatan tanaman tersebut tumbuh dilingkungan yang alami dan tidak terusik oleh manusia. Namun, bagi Anda yang ingin budidaya tanaman di dalam pot atau bagi Anda yang ingin hasil panen terjaga dan melimpah, maka keberadaan pupuk wajib Anda butuhkan. Pemberian pupuk pada tanaman bisa melalui tanah, daun bahkan diinjeksikan ke dalam batang tanaman.

Jenis jenis pupuk saat ini banyak sekali kita jumpai di toko-toko pertanian. Secara bentuknya, pupuk terbagi menjadi dua jenis, yakni pupuk padat dan cair. Sedangkan berdasarkan proses pembuatannya, pupuk terbagi menjadi pupuk organik dan pupuk anorganik. Berikut berbagai jenis pupuk baik organik maupun anorganik.

Jenis Jenis Pupuk Organik

Dinamakan pupuk alami, otomatis bahan-bahan dan proses pembuatannya sangat alami. Bahan-bahan alami yang bisa dijadikan pupuk organik diantaranya adalah kotoran hewan, sampah sisa makanan rumah tangga, dedaunan, batang kayu, dll. Jenis jenis pupuk organik yang dari bahan dasar alami ada banyak, diantaranya:

1. Pupuk Kandang

Jenis pupuk organik, Pupuk kandang

Pupuk organik jenis ini paling banyak digunakan oleh masyarakat dikarenakan mudah sekali dalam menemukan bahan dasar dan membuatnya. Sumber bahan baku pembuatan pupuk kandang adalah kotoran hewan. Seperti sapi, kambing, ayam dan domba. Kandungan unsur hara yang dimiliki pupuk kandang cukup komplit, mulai dari Nitrogen, Fosfor dan Kalium. Juga ada beberapa senyawa mikro seperti Magnesium, Belerang, Besi, Molibdenum dan juga Tembaga.

Pupuk kandang terbagi menjadi dua jenis, yakni pupuk kandang dingin dan panas. Pupuk dingin diurai dengan mikroorganisme secara perlahan, sehingga tidak menimbulkan panas. Contohnya pupuk jenis ini adalah dari kotoran babi, kerbau dan sapi. Sedangkan untuk jenis pupuk kandang panas didapatkan karena proses penguraian yang sangat cepat dari mikroorganisme. Contohnya adalah dari bahan dasar kotoran ayam, kambing dan kuda.

Baca juga: Cara membuat pupuk organik

2. Pupuk Kompos

Pupuk kompos

Bahan dasar pupuk kompos biasanya adalah limbah rumah tangga dan juga tanaman. Proses pembuatannya bersifat biologis alami, yakni dibantu oleh makroorganisme dan mikroorganisme. Untuk contoh mikroorganisme biasanya menggunakan bakteri dan jamur. Sedangkan dari unsur makroorganisme biasa menggunakan cacing tanah. Pupuk kompos memiliki beberapa fungsi diantaranya adalah mengaktifkan unsur hara dalam tanah, memperkuat zat hara pada tanah yang berpasir dan menambah daya tahan maupun serap air pada tanah.

3. Pupuk Hijau

Pupuk hijau

Bahan dasar dari pupuk hijau sangatlah khas yakni tanaman, baik sebagian maupun seluruhnya. Bahkan beberapa kalangan menggunakan sisa panen untuk bahan dasar pembuatan pupuk yang berwarna hijau ini. Namun, beberapa kalangan juga sengaja menanam tanaman tertentu seperti pakis air dan kacang-kacangan untuk dijadikan pupuk hijau. Pupuk jenis ini sangat efektif meningkatkan unsur hara dalam tanah sehingga sangat baik untuk tumbuh dan perkembangan segala jenis tanaman.

4. Pupuk Humus

Pupuk organik, pupuk humus

Istilah humus sebenarnya merujuk pada salah satu jenis tanah yang ternyata memiliki manfaat yang sama sebagaimana pupuk. Dengan demikian humus bisa dikategorikan sebagai jenis pupuk organik. Selain itu, jika dilihat dari bahan dasarnya yakni sisa-sisa dedaunan dan rantig yang melalui proses pembusukan secara alami, maka wajar digolongkan sebagai pupuk jenis organik.

Pupuk humus sangat baik untuk tanah maupun tanaman. Beberapa manfaatnya adalah sebagai pengikat unsur hara mikro maupun makro dalam tanah, sumber energi bagi mikroorganisme dalam tanah, menjaga kandungan air di dalam tanah dan membantu mempercepat penghancuran senyawa beracun dalam tanah.

Jenis Jenis Pupuk Anorganik

Jenis pupuk ini disebut juga dengan istilah pupuk buatan atau yang berbahan dasar dan diproses secara kimia. Jenis jenis pupuk anorganik yang berbahan dasar kimia juga bermacam-macam, beberapa diantaranya:

1. Pupuk SP36

Jenis pupuk anorganik, pupuk SP36

Rumus kimia dari pupuk jenis ini adalah P205. Terbuat dari asam sulfat (belerang) dan fosfat alam. Kandungan fosfor (P) dalam pupuk ini sangat tinggi, mencapai 36%. Artinya dalam tiap 100 kg pupuk SP36, 36% nya adalah fosfor. Pupuk jenis ini tidak bersifat higroskopis (larut dalam air) sehingga akan bertahan lama walaupun disimpan dalam lingkungan dengan kelembaban yang cukup tinggi. Bentuknya seperti butiran-butiran dengan ukuran yang besar dan berwarna abu-abu.

2. Pupuk ZA

Pupuk ZA

Kependekan dari Zwavelzure Amonium dengan rumus kimia (NH4)2SO4. Karena terdiri dari asap belerang (S) dan gas ammonium (NH4+), maka disebut juga dengan pupuk Amonium Sulfat. Kandungan nitrogennya adalah 21% dan sulfur sebesar 24%. Bentuknya kristal dan warnanya beragam, mulai dari putih, merah muda, abu-abu, biru dan juga kuning. Pupuk ZA termasuk mudah larut dalam air sehingga mudah diserap oleh tanaman. Namun, tidak cocok untuk tanah muda karena sifat pupuk ZA sangatlah asam.

3. Pupuk Urea

Pupuk urea

Disebut juga dengan nama Amonium Carbamide dengan rumus kimia CO(NH2)2. Pupuk urea dibuat dari dua bahan dasar kimiawi, yakni asam arang (CO2) dan gas amoniak (NH3). Dalam pupuk jenis urea mengandung 46% nitrogen (N), sehingga misalnya dalam 100 kg pupuk urea terdapat 46 kg unsur nitrogen. Pupuk urea mudah larut dalam air sehingga mudah diserap oleh tanaman. Dari segi bentuk, pupuk ini seperti kristal dan secara warna umumnya berwarna putih. Namun, untuk yang bersubsidi biasanya berwarna merah muda.

4. Pupuk KCL

Pupuk KCL

Kependekan dari Klarium Klorida dan sebagaimana namanya, pupuk ini mengandung banyak sekali untuk Klorida (K), mencapai 60% dalam bentuk K2O. bentuk pupuk jenis ini lebih ke serbuk dan berwarna merah. Perlu Anda perhatikan bahwa kandungan klorida bersifat racun bagi beberapa jenis tanaman seperti wortel dan kentang. Dapat digunakan sebagai pupuk dasar atau pupuk susulan.

5. Pupuk ZK

Terbuat dari asam belerang dan kalium sehingga juga disebut pupuk kalium sulfat. Rumus kimianya adalah K2SO4. Pupuk ZK (Zwavelzure Kali) mengandung unsur hara makro K dalam bentuk K2O sebesar 50%. Dan 17% unsur hara sulfur (S). Kadar air dalam pupuk ini maksimal 1% dan klorida maksimal 2,5%. Pupuk ZK bersifat tidak larut air.

6. Pupuk NPK PHONSKA

Pupuk anorganik, Pupuk NPK PHONSKA

Kependekan dari Nitrogen Phospate Kalium dengan rumus kimia NPK. Mengandung 15% Nitrogen, 15% Fosfat, 15% Kalium dan 10% Sulfur. Memiliki kadar air maksimal 2%, berbentuk butiran berwarna merah muda. Bersifat higroskopis sehingga mudah diserap oleh tanaman. Reaksi kimianya yang netral memuat pupuk ini bisa diaplikasikan ke dalam berbagai jenis tanah.

Dari jenis pupuk organik dan anorganik tersebut, Anda harus bisa memilih mana pupuk yang cocok dengan tanaman yang sedang Anda tanam, karena setiap tanaman membutuhkan pupuk yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *